jika ..
suatu saat kita diberi kesempatan untuk berjalan menyusuri benua-benua,
pulau-pulau, lembah-lembah, gunung-gunung,
atau paling tidak bertemu dengan saudara-saudara kita dari berbagai daerah di luar sana,
tanyakan kepada mereka,
apakah di negerinya ada tanah sesubur tanah negeri kita,
yang bagaikan seorang ibu hamil sebagaimana ibu pertiwi Indonesia,
tanyakan..
adakah matahari mereka sesumringah matahari Republik Indonesia,
adakah rerumputan yang sehijau dan seramah rumput nusantara, melambai-lambai menyapa ruh mahluk-mahluk bumi..
tanyakan…
adakah kembang, bunga-bunga, pepohonan, angin, hujan, atau apa saja yang seindah kembang-2,bunga-2 Indonesia,
segemericik air kita,
sedahsyat Indonesia dalam memantulkan kasih, rahmat dan barokah Allah, gusti kang ndamel jagad..
betapa sayangnya Gusti kepada kita,
betapa cintanya Robbi kepada bangsa kita,
betapa beruntungnya kita dilahirkan di bumi ini,
namun kenapa, kenapa sampai krisis begini,
berebutan makanan,
berebutan kekuasaan,
bertengkar,
bahkan berbunuhan satu sama lain,
apakah yang salah dengan kita?
sebodoh dan sejahil apakah kita ini..
apa yang salah dengan akal dan pikiran kita?
apa yang salah dengan sistem budaya kita?
sistem politik kita?
demokrasi kita?
adakah kita bersedia untuk melihat bahwa memang ada kesalahan-kesalahan yang sedang dan terus menerus kita lakukan?
saya yakin,
sebagaimana suburnya tanah dan tanam-tanaman di tanah kita,
Allah juga telah memberi kesuburan kecerdasan akal kita,
kesuburan cinta hati kita,
masalahnya kita bukan tidak punya ilmu menyelesaikan masalah,
bukan tidak punya metode, solusi, pemecahan untuk mengakhiri keterbelakangan kita,
tetapi masalahnya adalah,
kita mau atau tidak,
bersedia atau tidak,
agar tidak terus menerus udara di atas negeri ini terlantun tembang-tembang, gending-gending, nyanyian-nyanyian, dan syair kematian..
Istighfar, Kiai Kanjeng